KEHADIRAN PEMARKAH DETERMINASI PADA KALIMAT EKATRANSITIF BAHASA MAKASSAR



 Asriani Abbas
Universitas Hasanuddin

Abstrak

Fokus penelitian ini adalah kehadiran pemarkah determinasi pada kalimat ekatransitif Bahasa Makassar. Penelitian ini menggunakan metode simak, yang berupa teknik simak libat cakap disertai perekaman dan pencatatan. Penelitian ini bertujuan mengungkap kehadiran afiks sebagai pembentuk verba ekatransitif  bahasa Makassar dan kehadiran pemarkah determinasi berdasarkan peristiwa morfofonemik yang dialami  bentuk dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba ekatransitif bahasa Makassar dibentuk oleh prefiks aN-, aK- si-, dan prefiks rangkap aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si-, si-+pa-, si-+pa-+ka-. Adapun, prefiks aN-, aK- dan prefiks rangkap  aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si- yang berasimilasi dengan fonem awal bentuk dasar menghadirkan pemarkah determinasi -a atau -ya sebagai penentu (determinator) pada posisi belakang nomina/frasa nomina. Kalimat ekatransitif yang menghadirkan pemarkah determinasi -a atau -ya memiliki struktur fungsional yang berupa satuan fungsional subjek mendahului predikat disertai objek yang diisi oleh kategori nomina/frasa nomina.

Kata kunci: ekatransitif, verba, nomina, determinator

ATTENDANCE OF MARKER DETERMINATION
IN SINGLE TRANSITIVE SENTENCE OF MAKASSARESE

Asriani Abbas
Hasanuddin University
Abstract
The focus in this research is attendance of marker determination in single transitive sentence of Makassarese. This research used observe attentively, which is technique of pay attention and involved in talk with recording and make a note. The purpose in this research is to disclose the presence of affix as forming verbs of single transitive of Makassarese and presence of marker determination based of morphophonemic experienced basic form. The result of research showed that verb of single transitive of Makassarese formed by prefix aN-, aK- si-, and double prefix aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si-, si-+pa-, si-+pa-+ka-. As for the prefix aN-, aK- and double prefix aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si- assimilated with initial phoneme basic formed presents marker determination -a or –ya as determinant on the rear position of noun/noun phrase. Sentence of single transitive that brings marker determination -a or –ya has a functional structure which form the subject precedes functional unit accompanied predicate object filled out category noun/noun phrase.


Keywords: Single transitive, verbs, noun, determinant


1.      Pendahuluan
Bahasa Makassar ditempatkan dalam kurikulum muatan lokal di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama sejak tahun 1995 oleh pemerintah Indonesia. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya pelestarian bahasa-bahasa daerah. Namun, sampai sekarang pembelajaran bahasa daerah, khususnya bahasa Makassar tidak berlangsung dengan baik karena ketidaktersediaan materi pembelajaran dan tenaga pengajar yang memiliki pengetahuan yang memadai terhadap bahasa daerah yang akan diajarkan. Kehadiran pemarkah determinasi pada kalimat ekatransitif berkorelasi dengan struktur kalimat bahasa Makassar yang selalu konsisten subjek (S) di depan predikat (P).  Struktur kalimat tersebut memiliki keunikan karena tidak dapat berubah struktur menjadi P di depan S (pola inversi), sebagaimana halnya pola dasar kalimat bahasa Makassar yang berpola P-S (Abbas, 2014:356). Pengetahuan secara mendalam terhadap berbagai struktur kalimat bahasa Makassar disertai pemarkah-pemarkah yang membangunnya belum dikenal dengan baik oleh para pengajar, pembelajar, pemerhati, dan peminat bahasa Makassar.  Oleh karena itu, diperlukan suatu acuan pembelajaran yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan terhadap seluk-beluk bahasa Makassar kepada generasi yang akan datang. Dengan pengetahuan yang memadai, mereka akan memiliki sikap positif tehadap keberadaan bahasa Makassar dan senantiasa berkeinginan melestarikannya  sebagai aset budaya bangsa.

1.1  Kalimat Ekatransitif 
 Moeliono dan Dardjowidjojo (ed.) (1988:136), dan Ramlan (1985:50) menyatakan bahwa kalimat yang membutuhkan kehadiran sebuah argumen objek secara obligatori termasuk klausa transitif dan verba yang membangun klausanya disebut verba transitif. Verba transitif disebut pula verba bervalensi dua (two place verb), yaitu sebuah kalimat harus mengandung nomina/frasa nomina, baik yang berfungsi sebagai subjek maupun yang berfungsi sebagai objek. Tentu saja verba yang membangun kalimat tersebut termasuk verba ekatransitif atau monotransitif.
 Jika  dua argumen objek, satu sebagai objek langsung (OL) dan yang satunya lagi sebagai objek tak langsung (OTL), termasuk klausa transitif dan verba yang membangun klausanya disebut pula verba transitif. Verba transitif sejenis itu  disebut verba bervalensi tiga (three place verb), yaitu sebuah kalimat harus mengandung nomina/frasa  nomina, baik yang berfungsi sebagai subjek maupun yang berfungsi sebagai objek. Adapun, nomina/frasa nomina yang terletak di sebelah kanannya berfungsi sebagai pelengkap. Tentu saja verba yang membangun kalimat tersebut termasuk verba dwitransitif atau bitransitif. Pada bahasa tertentu, sebuah verba selalu disertai enklitika yang berperan sebagai salinan subjek dan salinan objek, seperti halnya dalam bahasa Makassar.

1.2  Morfofonemik
Chaer (2007:194) memberikan nama lain bagi istilah morfofonemik sebagai  morfofonologi, yaitu peristiwa berubahnya wujud morfem dalam suatu proses morfologis, baik secara afiksasi, reduplikasi maupun secara kompositum. Pandangan yang sama dikemukakan oleh kridalaksana (2007:203) bahwa morfofonemik adalah subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi. Di dalamnya dijelaskan bentuk-bentuk morfem yang direalisasi dalam tingkat fonologi. Pandangan dari beberapa pakar linguistik dapat direalisasikan dalam contoh bahasa Makassar.

Prefiks aN- dapat mengalami geminasi seperti kaidah morfofonemik berikut ini.
Kaidah morfofonemik prefiks aN-
Bunyi [N] à    /mm/    /____    + /b/, /p/, /m/
                        /nng/    /____       + /a/,/e/, /i/, /o/, /u/
                        /nny/    /____     + /s/
Prefiks aN- menjadi amm jika melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal /b/, /p/, /m/.
Proses morfofonemik prefiks aN- pada bentuk dasar yang berfonem awal /b/
                        aN- + bolik ‘simpan’                            à   ammolik ‘menyimpan’
                                                                               ambolik (i) ‘menyimpan dia’       
Bunyi amm mengalami variasi bunyi menjadi amb yaitu: ambolik(i) ‘menyimpan dia’
Proses morfofonemik prefiks aN- pada bentuk dasar yang berfonem awal /p/
aN- + pélak ‘buang’                              à   ammelak ‘membuang’
                                                        ampelak (i)
Bunyi amm mengalami variasi bunyi menjadi amp yaitu: ampelak(i) ‘membuang’,
Proses morfofonemik prefiks aN- pada bentuk dasar yang berfonem awal /m/
aN- + mantang ‘tinggal’           à  ammantang ‘tinggal’   
                   
Proses morfofonemik terjadi akibat melekatnya afiks  pada bentuk dasar melalui cara afiksasi. Proses penambahan morfem terikat pada sebuah bentuk dasar disebut proses morfemis. Afiks terbagi atas: prefiks, infiks, sufiks, konfiks. Proses pengimbuhan di depan bentuk dasar (prefiksasi), proses pengimbuhan di tengah bentuk dasar (infiksasi), proses pengimbuhan di belakan bentuk dasar (sufiksasi), dan proses pengimbuhan di depan dan di belakang bentuk dasar (konfiksasi). Menurut Manyambeang dkk. (1996:34-43) di dalam bahasa Makassar prefiks terdiri atas prefiks tunggal dan prefiks rangkap. Prefiks tunggal meliputi aN-, aK-, si- dan prefiks rangkap meliputi aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si-, si-+pa-, si-+pa-+ka-. Pelekatan afiks pada bentuk dasar memengaruhi kehadiran pemarkah determinasi pada posisi belakang nomina/frasa nomina..

1.3 Pemarkah Determinasi
Pemarkah determinasi atau definit  adalah hal menentukan, menetapkan, memastikan arti sebuah kata dilihat dari hubungannya dalam kalimat secara keseluruhan (Foley (1976). Dalam bahasa Makassar setiap kata yang menduduki fungsi dalam satu klausa atau kalimat tidak dapat berdiri sendiri (Friberg, 1996:55). Akan tetapi, kata tersebut selalu berdampingan dengan unsur lain. Tidak pernah ditemukan kehadiran kata yang menduduki fungsi tertentu di dalam klausa atau kalimat yang tidak di dampingi unsur lain, seperti ammakku ‘ibuku’ tidak pernah ditemukan ammak *‘ibu’ saja, mangei ‘pergi dia’ tidak pernah ditemukan *mangé ‘pergi’ saja.  Hal yang terkait dengan pemarkah determinasi menjadi fokus pembahasan  untuk mengetahui keberadaan pemarkah determinasi -a atau   -ya sebagai penentu (determinator) yang terletak pada posisi belakang nomina atau frasa nomina dalam kalimat ekatransitif.


2.        Metodologi
Bahasa Makassar merupakan salah satu bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian masyarakat yang bermukim di Provinsi Sulawesi Selatan,  di kawasan timur Indonesia.. Bahasa Makassar terdiri atas lima dialek yaitu: dialek Lakiung, dialek Turatea, dialek Bantaeng, dialek Konjo, dan dialek Bira-Selayar. Dari kelima dialek bahasa Makassar, dialek Lakiung dipilih sebagai objek penelitian. Dialek tersebut digunakan oleh masyarakat yang bermukim di Kota Makassar dan sekitarnya, di Kabupaten Gowa bagian barat, di Kabupaten Takalar dan pulau-pulau di sekitarnya. Nama Lakiung   diambil dari nama sebuah tempat pada masa kejayaan raja-raja Gowa yang  pernah menjadi daerah pusat pemerintahan. Dialek Lakiung merupakan dialek standar bahasa Makassar, secara historis  pernah  menjadi bahasa resmi kerajaan Gowa dan sebagai bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah (Basang dan Arif, 1981:12). Penelitian ini menggunakan metode simak, yang berupa teknik simak libat cakap disertai perekaman dan pencatatan Tulisan ini bertujuan mengungkap kehadiran afiks sebagai pembentuk verba ekatransitif  bahasa Makassar dan kehadiran pemarkah determinasi berdasarkan peristiwa morfofonemik yang dialami  bentuk dasar. Tulisan ini dapat menjadi dokumen penting yang dapat memandu para pengajar, pembelajar, pemerhati, dan peminat bahasa Makassar dalam menyusun kalimat dan membedakan  struktur dan variasi struktur  kalimat bahasa Makassar yang sesungguhnya.


3.    Pembahasan
Kalimat yang  satuan fungsionalnya berupa satuan fungsional subjek (S) mendahului predikat (P) (P tidak dapat mendahului S) menjadikan enklitika yang melekat pada posisi posverba berfungsi sebagai pemarkah objek (O) yang berkonkordansi dengan dengan pronomina yang menyertainya. Jika O diisi oleh kategori nomina (N)/farasa nomina (FN) akan muncul pemarkah determinasi (determinate) berupa –a. Pemarkah tersebut berfungsi sebagai penentu atau determinator yang terletak pada posposisi N/FN, contohnya asé ‘padi’ menjadi aséa ‘padi itu’, karanjéng ‘keranjang’ menjadi karanjénga ‘keranjang itu’. Nomina/frasa nomina yang berakhir dengan fonem /a/ akan mengubah pemarkah determinasi –a menjadi –ya. Contohnya jonga ‘rusa’ menjadi jongaya ‘rusa itu’.dua vokal /a/ yang berdekatan, contohnya jongaa mengalami bunyi luncuran /y/ menjadi jongaya ‘rusa itu’ (Abbas, 2014 232). Afiks pemarkah determinasi  dalam bahasa Makassar adalah prefiks. Prefis ada dua jenis, yaitu prefiks prefiks tunggal aN-, aK- si-,dan prefiks rangkap  aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si-, si-+pa-, si-+pa-+ka-.

1)      Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aN-
(1)   I Mina ambintingi (karanjénga)
i     Mina    aN-  binting   -i        karanjéng  -a
art  Mina    Pref  jinjing  p3enk  keranjang  det
Si Mina menjinjing dia keranjang itu
‘Mina menjinjing keranjang itu.’
Prefiks aN- yang melekat pada bentuk dasar binting ‘jinjing’ mengalami peristiwa morfofonemik secara perubahan pada bentuk dasar menjadi ambintingi ‘menjinjing dia’ mengharuskan kehadiran karanjéng ‘keranjang’ yang disertai pemarkah determinasi –a menjadi karanjénga ‘keranjang itu’. Enklitik  -i pada posisi posverba ambintingi ‘menjinjing dia’ saling tunjuk dengan O karanjénga ‘keranjang itu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(1a) * I Mina ambintingi (karanjéng)
    i     Mina    aN-  binting   -i        karanjéng 
   art  Mina    Pref  jinjing  p3enk    keranjang 
  Si Mina menjinjing dia keranjang.
  ‘Mina menjinjing keranjang.’

2)      Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aK-
(2)   I Baso ambaluki (janganga).
i    Baso     aK-   baluk   -i        jangang   -a
art  Baso   pref    jual    p3enk  ayam     det
si Baso menjual dia ayam itu.
‘Baso menjual ayam itu.’
Prefiks aK- yang melekat pada bentuk dasar baluk ‘jual’ mengalami peristiwa morfofonemik secara perubahan pada bentuk dasar menjadi ambaluki ‘menjual dia’ mengharuskan kehadiran jangang ‘ayan’ yang disertai pemarkah determinasi –a menjadi janganga ‘ayam itu’. Enklitik  -i pada posisi posverba ambaluki ‘menjual dia’ saling tunjuk dengan O janganga ‘ayam itu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
       (2a) * I Baso ambaluki (jangang).
    i    Baso     aK-   baluk   -i        jangang 
  art  Baso   pref    jual    p3enk     ayam   
  si Baso menjual dia ayam.
  ‘Baso menjual ayam.’

3)      Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aK- + pa-
(3)   I Bundu ampalumpaki (andikna) ri solonganga.
i  Bundu   aK- + pa-   lumpak   -i    andik  -na   ri  solongang   -a
Art  Bundu     pref          lompat    p3enk  adik      pos   prep  selokan      det
Si Bundu melompatkan dia  adiknya ke selokan itu.
‘Si Bnndu melompatkan adiknya ke selokan.’
Prefiks aK-+pa- yang melekat pada bentuk dasar lumpak ‘lompat’ mengalami peristiwa morfofonemik secara perubahan pada bentuk dasar menjadi ampalumpaki ‘melompatkan dia’ mengharuskan kehadiran solongang ‘selokan’yang disertai pemarkah determinasi –a menjadi solonganga ‘selokan itu’. Enklitik  -i pada posisi posverba  ampalumpaki ‘melompatkan dia’ saling tunjuk dengan O solonganga ‘selokan itu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(3a) *I Bundu ampalumpaki (andikna) ri solongang.
   i  Bundu   aK- + pa-      lumpak      -i       andik   -na   ri      solongang
  Art  Bundu     pref          lompat    p3enk  adik      pos   prep  selokan    
  Si Bundu melompatkan dia  adiknya ke selokan.
 ‘Si Bnndu melompatkan adiknya ke selokan.’

4)      Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aK-+pi-
(4)   Inakké ampilanngéri (radioa).
i nakké   aK-+pi-    lanngéré  -i      radio   -a
art  p1           pref         dengar    p3enk    radio     det
si saya mendengarkan dia radio itu.
‘saya mendengarkan radio.’
Prefiks aK- mengalami penyesuaian bunyi dengan prefiks pi- yang melekat pada bentuk dasar lanngérék ‘dengar menjadi ampilanngérii ’ mendengarkan dia’ mengharuskan kehadiran radio ‘radio’ yang disertai pemarkah determinasi –a menjadi radioa ‘radio itu’. Enklitik  -i pada posisi posverba ampilanngérii ‘mendengarkan dia’ saling tunjuk dengan O radioa ‘radio itu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(4a) * Inakké ampilanngéri (radio).
   i nakké   aK-+pi-    lanngéré  -i      radio  
   art  p1           pref         dengar    p3enk    radio   
   si saya mendengarkan dia radio.
  ‘saya mendengarkan radio.’

5)      Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis  aK-+pa-+ka-
(5)   Ikau ampakalompoi (janganga).
i   kau    aK-+pa-+ka-  lompo  -i          jangang   -a
art   p2           pref        besar   p3enk   ayam      det
si kamu membesarkan dia ayam itu.
‘Kamu membesarkan ayam itu.
Prefiks aK- mengalami penyesuaian bunyi dengan prefiks pa-+ka- yang melekat pada bentuk dasar lompo ‘besar’ menjadi ampakalompoi ’ membesarkan dia’ mengharuskan kehadiran jangang ‘ayam’ yang disertai pemarkah determinasi –a menjadi janganga ‘ayam  itu’. Enklitik  -i pada posisi posverba ampakalompoi ‘membesarkan dia’ saling tunjuk dengan O janganga ‘ayam itu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(5a)  *Ikau ampakalompoi (jangang).
    i   kau    aK-+pa-+ka-  lompo  -i          jangang 
   art   p2           pref        besar   p3enk   ayam    
   si kamu membesarkan dia ayam.
  ‘Kamu membesarkan ayam.’

6)      Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis  aK-+pa-+si-
I Mina ampasibakji anak sikolaya
i Mina   aK-+pa-+si-   bakji -i           anak   sikola   -ya
art Mina     pref           pukul  p3enk  anak   sekolah   det
Si Mina menjadikan saling memukul anak sekolah itu.
‘Mina menjadikan anak sekolah itu saling memukul.’
Prefiks aK- mengalami penyesuaian bunyi dengan prefiks pa-+si- yang melekat pada bentuk dasar bakji ‘pukul’ menjadi  ampasibakji ’saling memukul dia’ mengharuskan kehadiran anak sikola ‘anak sekolah’ yang disertai pemarkah determinasi –ya menjadi anak sikolaya ‘anak sekolah  itu’. Enklitik  -i pada posisi posverba ampasibakji ’saling memukul dia’ saling tunjuk dengan O anak sikolaya ‘anak sekolah iu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(6a) *I Mina ampasibakji anak sikola.
     i Mina   aK-+pa-+si-   bakji -i           anak   sikola 
    art Mina     pref           pukul  p3enk  anak   sekolah 
    Si Mina menjadikan saling memukul anak sekolah.
   ‘Mina menjadikan anak sekolah itu saling memukul.
7.      Afiks Pemarkah Determinasi si-+pa
(7)   sipasambilai anak-anaka ri binangaya
si-+pa-  sambila    -i   anak-anak    -a  naung  ri   binanga   -ya
pref      lempar  p3enk  anak-anak  det   turun  ke sungai     det
Saling lempar anak itu turun ke sungai.
             ‘Saling lempar anak-anak itu ke sungai.’
Prefiks si-+pa- melekat pada bentuk dasar sambilai ‘lempar dia’ menjadi  sipasambilai ‘saling lempar mereka’ mengharuskan kehadiran anak-anaka ‘anak-anak itu’ ri binanga ‘ke sungai’ yang disertai pemarkah determinasi –ya menjadi binangaya ‘sungai itu’. Enklitik  -i pada posisi posverba sipasambilai  ’ saling lempar mereka’ saling tunjuk dengan O anak-anaka ‘anak-anak itu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(7a) *asipasambilai anak-anaka ri binanga
       si-+pa-  sambila    -i   anak-anak    -a  naung  ri   binanga 
       pref      lempar  p3enk  anak-anak  det   turun  ke sungai   
       Saling lempar anak itu turun ke sungai.
                   ‘Saling lempar anak-anak itu ke sungai.’


  

Kesimpulan
            Bahasa Makasar memiliki keunikan, baik dari segi morfologis maupun dari segi sintaksis. Keunikan dari segi morfologis terdapat pada keberadaan prefiks, baik prefiks tunggal maupun prefiks rangkap. Ada dua bentuk yang terjadi  pada saat prefiks mengalami proses morfofonemik, yaitu geminasi dan perubahan bunyi. Proses morfofonemik prefiks pada bentuk dasar yang mengalami perubahan bunyi pada umumnya  enklitika yang berada pada posisi posverba saling tunjuk dengan O kalimat. Selanjutnya, objek yang dibangun oleh kelas nomina/frasa nomina memicu kehadiran pemarkah determinasi -a atau -ya. Struktur kalimat selalu konsisten  subjek (S) mendahului predikat (P). Struktur tersebut tidak dapat dibalik susunannya menjadi P-S sebagaimana pola dasar kalimat yang dimiliki bahasa Makassar. Sebaliknya, proses morfofonemik prefiks pada bentuk dasar yang mengalami geminasi pada umumnya enklitika yang berada pada posisi posverba saling tunjuk dengan S kalimat. Struktur kalimat selalu P mendahului S. Namun, strukturnya dapat diubah-ubah susunannya.


Daftar Pustaka

Abbas, Asriani. 2014. “Perilaku Morfosintaksis Verba Bahasa Makassar.” Disertasi Doktor. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar

Alwi, hasan. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indoneisa (Edisi Ketiga, Cetakan I). Jakarta: Balai Pustaka.

Basang, Arif. 1981. Struktur Bahasa Makassar. Jakarta: Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Chaer, Abdul. 2007. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Comrie, B. 1989. Aspect: An Introduction to the Study of Verbal Aspect and Related Problems. Cambridge:  Cambridge University Press.

Friberg, B. 1996. Konjo’s Peripatetic Person Markers. Papers in Austronesian Linguistic No3,137 171.

Kridalaksana 1986. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

Ramlan 1985. Tata Bahasa Indonesia Penggolongan Kata. Yogyakarta: Andi Offset.

Foley, A.A. 1976. Comparative Syntax in Austronesia.Berkeley University of California, California.

Moeliono, A.M. dan Dardjowidjojo. (ed.) 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka.

Manyambeang, Kadir. 1991 “Struktur Klausa Nahasa Makassar Dialek Lakiung”. Tesis Magister Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.











Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "KEHADIRAN PEMARKAH DETERMINASI PADA KALIMAT EKATRANSITIF BAHASA MAKASSAR"

Posting Komentar