Asriani Abbas
Universitas
Hasanuddin
Abstrak
Fokus penelitian
ini adalah kehadiran pemarkah determinasi pada kalimat ekatransitif Bahasa
Makassar. Penelitian ini menggunakan metode simak, yang berupa teknik simak
libat cakap disertai perekaman dan pencatatan. Penelitian ini bertujuan
mengungkap kehadiran afiks sebagai pembentuk verba ekatransitif bahasa Makassar dan kehadiran pemarkah
determinasi berdasarkan peristiwa morfofonemik yang dialami bentuk dasar. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa verba ekatransitif bahasa Makassar dibentuk oleh prefiks aN-, aK- si-, dan prefiks rangkap aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si-,
si-+pa-, si-+pa-+ka-. Adapun, prefiks
aN-, aK- dan prefiks rangkap aK-+pa-,
aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si- yang berasimilasi dengan fonem awal
bentuk dasar menghadirkan pemarkah determinasi -a atau -ya sebagai
penentu (determinator) pada posisi belakang nomina/frasa nomina. Kalimat
ekatransitif yang menghadirkan pemarkah determinasi -a atau -ya memiliki
struktur fungsional yang berupa satuan fungsional subjek mendahului predikat
disertai objek yang diisi oleh kategori nomina/frasa nomina.
Kata kunci:
ekatransitif, verba, nomina, determinator
ATTENDANCE OF
MARKER DETERMINATION
IN SINGLE TRANSITIVE SENTENCE OF MAKASSARESE
IN SINGLE TRANSITIVE SENTENCE OF MAKASSARESE
Asriani
Abbas
Hasanuddin
University
Abstract
The
focus in this research is attendance of marker determination in single
transitive sentence of Makassarese. This research used observe attentively,
which is technique of pay attention and involved in talk with recording and
make a note. The purpose in this research is to disclose
the presence of affix as forming verbs of single transitive of Makassarese and
presence of marker determination based of morphophonemic experienced basic
form. The result of research showed that verb of single transitive of
Makassarese formed by prefix aN-, aK-
si-, and double prefix aK-+pa-,
aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si-, si-+pa-, si-+pa-+ka-. As for the prefix aN-, aK- and double prefix aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si- assimilated
with initial phoneme basic formed presents marker determination -a or –ya as determinant on the rear position of noun/noun phrase.
Sentence of single transitive that brings marker determination -a or –ya has a functional structure which form the
subject precedes functional unit accompanied predicate object filled
out category noun/noun phrase.
Keywords: Single
transitive, verbs, noun, determinant
1.
Pendahuluan
Bahasa Makassar ditempatkan
dalam kurikulum muatan lokal di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama sejak tahun 1995 oleh
pemerintah Indonesia.
Hal tersebut dilakukan sebagai
upaya pelestarian bahasa-bahasa daerah.
Namun, sampai sekarang pembelajaran bahasa daerah, khususnya
bahasa Makassar
tidak berlangsung dengan baik karena ketidaktersediaan materi pembelajaran dan
tenaga pengajar yang
memiliki pengetahuan yang memadai terhadap bahasa daerah yang akan
diajarkan. Kehadiran pemarkah determinasi pada kalimat ekatransitif berkorelasi
dengan struktur kalimat bahasa Makassar yang selalu konsisten subjek (S) di
depan predikat (P). Struktur kalimat tersebut
memiliki keunikan karena tidak dapat berubah struktur menjadi P di depan S
(pola inversi), sebagaimana halnya pola dasar kalimat bahasa Makassar yang
berpola P-S (Abbas, 2014:356). Pengetahuan secara mendalam terhadap berbagai
struktur kalimat bahasa Makassar disertai pemarkah-pemarkah yang membangunnya
belum dikenal dengan baik oleh para pengajar,
pembelajar, pemerhati, dan peminat bahasa Makassar. Oleh
karena itu, diperlukan suatu acuan pembelajaran yang diharapkan dapat memberikan
pengetahuan terhadap seluk-beluk bahasa Makassar kepada generasi yang akan
datang. Dengan pengetahuan yang memadai, mereka akan memiliki sikap positif
tehadap keberadaan bahasa Makassar dan senantiasa berkeinginan
melestarikannya sebagai aset budaya
bangsa.
1.1
Kalimat Ekatransitif
Moeliono dan Dardjowidjojo (ed.) (1988:136),
dan Ramlan (1985:50) menyatakan bahwa kalimat yang membutuhkan kehadiran sebuah
argumen objek secara obligatori termasuk klausa transitif dan verba yang
membangun klausanya disebut verba transitif. Verba transitif disebut pula verba
bervalensi dua (two place verb),
yaitu sebuah kalimat harus mengandung nomina/frasa nomina, baik yang berfungsi
sebagai subjek maupun yang berfungsi sebagai objek. Tentu saja verba yang
membangun kalimat tersebut termasuk verba ekatransitif atau monotransitif.
Jika
dua argumen objek, satu sebagai objek langsung (OL) dan yang satunya
lagi sebagai objek tak langsung (OTL), termasuk klausa transitif dan verba yang
membangun klausanya disebut pula verba transitif. Verba transitif sejenis
itu disebut verba bervalensi tiga (three place verb), yaitu sebuah kalimat
harus mengandung nomina/frasa nomina,
baik yang berfungsi sebagai subjek maupun yang berfungsi sebagai objek. Adapun,
nomina/frasa nomina yang terletak di sebelah kanannya berfungsi sebagai
pelengkap. Tentu saja verba yang membangun kalimat tersebut termasuk verba dwitransitif
atau bitransitif. Pada bahasa tertentu, sebuah verba selalu disertai enklitika
yang berperan sebagai salinan subjek dan salinan objek, seperti halnya dalam
bahasa Makassar.
1.2
Morfofonemik
Chaer (2007:194) memberikan
nama lain bagi istilah morfofonemik sebagai
morfofonologi, yaitu peristiwa berubahnya wujud morfem dalam suatu
proses morfologis, baik secara afiksasi, reduplikasi maupun secara kompositum.
Pandangan yang sama dikemukakan oleh kridalaksana (2007:203) bahwa morfofonemik
adalah subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi. Di dalamnya
dijelaskan bentuk-bentuk morfem yang direalisasi dalam tingkat fonologi. Pandangan
dari beberapa pakar linguistik dapat direalisasikan dalam contoh bahasa
Makassar.
Prefiks aN- dapat mengalami
geminasi seperti kaidah morfofonemik berikut ini.
Kaidah morfofonemik prefiks aN-
Bunyi [N] à /mm/ /____ + /b/, /p/, /m/
/nng/ /____ + /a/,/e/, /i/, /o/, /u/
/nny/ /____ + /s/
Prefiks aN- menjadi amm
jika melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal /b/, /p/, /m/.
Proses
morfofonemik prefiks aN- pada bentuk dasar yang berfonem awal /b/
aN-
+ bolik ‘simpan’ à ammolik ‘menyimpan’
ambolik (i) ‘menyimpan dia’
Bunyi
amm mengalami variasi bunyi menjadi amb yaitu: ambolik(i) ‘menyimpan dia’
Proses
morfofonemik prefiks aN- pada bentuk dasar yang berfonem awal /p/
aN-
+ pélak ‘buang’ à ammelak
‘membuang’
ampelak (i)
Bunyi
amm mengalami variasi bunyi menjadi amp yaitu: ampelak(i) ‘membuang’,
Proses
morfofonemik prefiks aN- pada bentuk dasar yang berfonem awal /m/
aN-
+ mantang ‘tinggal’ à ammantang ‘tinggal’
Proses morfofonemik terjadi
akibat melekatnya afiks pada bentuk
dasar melalui cara afiksasi. Proses penambahan morfem terikat pada sebuah
bentuk dasar disebut proses morfemis. Afiks terbagi atas: prefiks, infiks,
sufiks, konfiks. Proses pengimbuhan di depan bentuk dasar (prefiksasi), proses
pengimbuhan di tengah bentuk dasar (infiksasi), proses pengimbuhan di belakan
bentuk dasar (sufiksasi), dan proses pengimbuhan di depan dan di belakang
bentuk dasar (konfiksasi). Menurut Manyambeang dkk. (1996:34-43) di dalam
bahasa Makassar prefiks terdiri atas prefiks tunggal dan prefiks rangkap. Prefiks tunggal
meliputi aN-, aK-, si- dan
prefiks rangkap meliputi aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-,
aK-+pa-+si-, si-+pa-, si-+pa-+ka-. Pelekatan afiks pada bentuk dasar memengaruhi kehadiran
pemarkah determinasi pada posisi belakang nomina/frasa nomina..
1.3
Pemarkah Determinasi
Pemarkah determinasi atau
definit adalah hal menentukan,
menetapkan, memastikan arti sebuah kata dilihat dari hubungannya dalam kalimat
secara keseluruhan (Foley (1976). Dalam bahasa Makassar setiap kata yang
menduduki fungsi dalam satu klausa atau kalimat tidak dapat berdiri sendiri
(Friberg, 1996:55). Akan tetapi, kata tersebut selalu berdampingan dengan unsur
lain. Tidak pernah ditemukan kehadiran kata yang menduduki fungsi tertentu di
dalam klausa atau kalimat yang tidak di dampingi unsur lain, seperti ammakku ‘ibuku’ tidak pernah ditemukan ammak *‘ibu’ saja, mangei ‘pergi dia’ tidak pernah ditemukan *mangé ‘pergi’ saja. Hal yang
terkait dengan pemarkah determinasi menjadi fokus pembahasan untuk mengetahui keberadaan pemarkah
determinasi -a atau -ya
sebagai penentu (determinator) yang terletak pada posisi belakang nomina atau
frasa nomina dalam kalimat ekatransitif.
2.
Metodologi
Bahasa
Makassar merupakan salah satu bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian
masyarakat yang bermukim di Provinsi Sulawesi Selatan, di kawasan timur Indonesia.. Bahasa Makassar terdiri atas lima
dialek yaitu: dialek
Lakiung, dialek Turatea, dialek Bantaeng, dialek Konjo, dan dialek Bira-Selayar. Dari kelima dialek bahasa
Makassar, dialek Lakiung dipilih sebagai objek penelitian. Dialek tersebut
digunakan oleh masyarakat yang bermukim di Kota Makassar dan sekitarnya, di
Kabupaten Gowa bagian barat, di Kabupaten Takalar dan pulau-pulau di sekitarnya.
Nama Lakiung diambil dari nama sebuah
tempat pada masa kejayaan raja-raja Gowa yang
pernah menjadi daerah pusat pemerintahan. Dialek Lakiung merupakan
dialek standar bahasa Makassar, secara historis
pernah menjadi bahasa resmi
kerajaan Gowa dan sebagai bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah (Basang
dan Arif, 1981:12). Penelitian ini menggunakan metode simak, yang berupa teknik
simak libat cakap disertai perekaman dan pencatatan Tulisan ini bertujuan mengungkap kehadiran
afiks sebagai pembentuk verba ekatransitif
bahasa Makassar dan kehadiran pemarkah determinasi berdasarkan peristiwa
morfofonemik yang dialami bentuk dasar. Tulisan ini dapat menjadi dokumen
penting yang dapat memandu para pengajar, pembelajar, pemerhati, dan peminat
bahasa Makassar dalam menyusun kalimat dan membedakan struktur dan variasi
struktur kalimat bahasa Makassar yang sesungguhnya.
3.
Pembahasan
Kalimat yang
satuan fungsionalnya berupa satuan fungsional subjek (S) mendahului
predikat (P) (P tidak dapat mendahului S) menjadikan enklitika yang melekat
pada posisi posverba berfungsi sebagai pemarkah objek (O) yang berkonkordansi
dengan dengan pronomina yang menyertainya. Jika O diisi oleh kategori nomina
(N)/farasa nomina (FN) akan muncul pemarkah determinasi (determinate) berupa
–a. Pemarkah tersebut berfungsi sebagai penentu atau determinator yang terletak
pada posposisi N/FN, contohnya asé
‘padi’ menjadi aséa ‘padi itu’, karanjéng ‘keranjang’ menjadi karanjénga ‘keranjang itu’. Nomina/frasa
nomina yang berakhir dengan fonem /a/ akan mengubah pemarkah determinasi –a menjadi –ya. Contohnya jonga
‘rusa’ menjadi jongaya ‘rusa itu’.dua
vokal /a/ yang berdekatan, contohnya jongaa
mengalami bunyi luncuran /y/ menjadi jongaya
‘rusa itu’ (Abbas, 2014 232). Afiks pemarkah determinasi dalam bahasa Makassar adalah prefiks. Prefis
ada dua jenis, yaitu prefiks prefiks tunggal aN-, aK- si-,dan
prefiks rangkap aK-+pa-, aK-+pi-, aK-+pa-+ka-, aK-+pa-+si-,
si-+pa-, si-+pa-+ka-.
1)
Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aN-
(1) I Mina ambintingi (karanjénga)
i Mina aN- binting
-i karanjéng -a
art Mina Pref
jinjing p3enk keranjang
det
Si Mina menjinjing dia keranjang itu
‘Mina menjinjing keranjang itu.’
Prefiks aN- yang
melekat pada bentuk dasar binting
‘jinjing’ mengalami peristiwa morfofonemik secara perubahan pada bentuk dasar
menjadi ambintingi ‘menjinjing dia’
mengharuskan kehadiran karanjéng
‘keranjang’ yang disertai pemarkah determinasi –a menjadi karanjénga ‘keranjang itu’. Enklitik -i pada posisi posverba ambintingi ‘menjinjing dia’ saling tunjuk dengan O karanjénga ‘keranjang itu’. Tanpa
kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(1a) * I Mina ambintingi (karanjéng)
i
Mina aN- binting
-i karanjéng
art Mina Pref
jinjing p3enk keranjang
Si Mina
menjinjing dia keranjang.
‘Mina menjinjing keranjang.’
2)
Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aK-
(2) I Baso ambaluki (janganga).
i Baso aK- baluk
-i jangang -a
art Baso pref
jual p3enk ayam
det
si Baso menjual dia ayam itu.
‘Baso menjual ayam itu.’
Prefiks aK- yang melekat pada bentuk dasar baluk ‘jual’ mengalami peristiwa
morfofonemik secara perubahan pada bentuk dasar menjadi ambaluki ‘menjual dia’ mengharuskan kehadiran jangang ‘ayan’ yang disertai pemarkah determinasi –a menjadi janganga ‘ayam itu’. Enklitik
-i pada posisi posverba ambaluki
‘menjual dia’ saling tunjuk dengan O janganga
‘ayam itu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat
tersebut tidak gramatikal.
(2a) * I
Baso ambaluki (jangang).
i Baso aK-
baluk -i jangang
art Baso
pref jual p3enk
ayam
si Baso menjual
dia ayam.
‘Baso menjual
ayam.’
3)
Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aK- +
pa-
(3) I Bundu ampalumpaki (andikna) ri solonganga.
i Bundu aK- + pa- lumpak
-i andik -na
ri solongang -a
Art Bundu pref lompat p3enk
adik pos prep
selokan det
Si Bundu melompatkan dia
adiknya ke selokan itu.
‘Si Bnndu melompatkan adiknya ke selokan.’
Prefiks aK-+pa- yang melekat pada bentuk dasar lumpak ‘lompat’ mengalami peristiwa
morfofonemik secara perubahan pada bentuk dasar menjadi ampalumpaki ‘melompatkan dia’ mengharuskan kehadiran solongang ‘selokan’yang disertai
pemarkah determinasi –a menjadi solonganga ‘selokan itu’. Enklitik -i pada
posisi posverba ampalumpaki ‘melompatkan dia’ saling tunjuk dengan O solonganga ‘selokan itu’. Tanpa kehadiran
pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(3a)
*I Bundu ampalumpaki (andikna) ri solongang.
i Bundu aK- + pa- lumpak -i andik -na
ri solongang
Art Bundu
pref lompat p3enk
adik pos
prep selokan
Si Bundu melompatkan
dia adiknya ke selokan.
‘Si Bnndu
melompatkan adiknya ke selokan.’
4)
Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aK-+pi-
(4) Inakké ampilanngéri (radioa).
i nakké aK-+pi-
lanngéré -i radio
-a
art p1 pref dengar p3enk
radio det
si saya mendengarkan dia radio itu.
‘saya mendengarkan radio.’
Prefiks aK- mengalami penyesuaian bunyi dengan
prefiks pi- yang melekat pada bentuk
dasar lanngérék ‘dengar menjadi ampilanngérii ’ mendengarkan dia’
mengharuskan kehadiran radio ‘radio’
yang disertai pemarkah determinasi –a menjadi
radioa ‘radio itu’. Enklitik -i
pada posisi posverba ampilanngérii
‘mendengarkan dia’ saling tunjuk dengan O radioa ‘radio itu’. Tanpa kehadiran
pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(4a)
* Inakké ampilanngéri (radio).
i nakké aK-+pi-
lanngéré -i radio
art p1
pref dengar p3enk
radio
si saya mendengarkan
dia radio.
‘saya
mendengarkan radio.’
5)
Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aK-+pa-+ka-
(5) Ikau ampakalompoi (janganga).
i kau aK-+pa-+ka- lompo
-i jangang -a
art p2
pref besar p3enk
ayam det
si
kamu membesarkan dia ayam itu.
‘Kamu
membesarkan ayam itu.
Prefiks aK- mengalami penyesuaian bunyi dengan
prefiks pa-+ka- yang melekat pada
bentuk dasar lompo ‘besar’ menjadi ampakalompoi ’ membesarkan dia’
mengharuskan kehadiran jangang ‘ayam’
yang disertai pemarkah determinasi –a
menjadi janganga ‘ayam itu’. Enklitik -i
pada posisi posverba ampakalompoi
‘membesarkan dia’ saling tunjuk dengan O janganga
‘ayam itu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat
tersebut tidak gramatikal.
(5a) *Ikau ampakalompoi (jangang).
i
kau aK-+pa-+ka- lompo -i
jangang
art
p2 pref besar
p3enk ayam
si kamu membesarkan dia ayam.
‘Kamu membesarkan ayam.’
6)
Afiks Pemarkah Determinasi dengan Prefis aK-+pa-+si-
I Mina
ampasibakji anak sikolaya
i Mina aK-+pa-+si- bakji -i anak sikola -ya
art
Mina pref pukul p3enk
anak sekolah det
Si Mina
menjadikan saling memukul anak sekolah itu.
‘Mina
menjadikan anak sekolah itu saling memukul.’
Prefiks aK- mengalami penyesuaian bunyi dengan
prefiks pa-+si- yang melekat pada
bentuk dasar bakji ‘pukul’
menjadi ampasibakji ’saling memukul dia’ mengharuskan kehadiran anak sikola ‘anak sekolah’ yang disertai
pemarkah determinasi –ya menjadi anak sikolaya ‘anak sekolah itu’. Enklitik -i
pada posisi posverba ampasibakji ’saling
memukul dia’ saling tunjuk dengan O anak
sikolaya ‘anak sekolah iu’. Tanpa kehadiran pemarkah determinasi di
belakang N, kalimat tersebut tidak gramatikal.
(6a) *I Mina
ampasibakji anak sikola.
i
Mina aK-+pa-+si- bakji -i anak sikola
art Mina
pref pukul p3enk
anak sekolah
Si Mina menjadikan saling memukul anak
sekolah.
‘Mina menjadikan anak sekolah itu saling
memukul.
7.
Afiks Pemarkah Determinasi si-+pa
(7) sipasambilai anak-anaka ri binangaya
si-+pa- sambila
-i anak-anak -a
naung ri binanga
-ya
pref
lempar p3enk anak-anak
det turun ke sungai
det
Saling lempar anak itu turun ke sungai.
‘Saling lempar anak-anak itu ke sungai.’
Prefiks si-+pa- melekat pada bentuk dasar sambilai ‘lempar dia’ menjadi sipasambilai
‘saling lempar mereka’ mengharuskan kehadiran anak-anaka ‘anak-anak itu’ ri
binanga ‘ke sungai’ yang disertai pemarkah determinasi –ya menjadi binangaya
‘sungai itu’. Enklitik -i pada posisi posverba sipasambilai ’ saling lempar mereka’ saling tunjuk dengan
O anak-anaka ‘anak-anak itu’. Tanpa
kehadiran pemarkah determinasi di belakang N, kalimat tersebut tidak
gramatikal.
(7a) *asipasambilai anak-anaka ri binanga
si-+pa-
sambila -i
anak-anak -a naung
ri binanga
pref lempar
p3enk anak-anak det
turun ke sungai
Saling
lempar anak itu turun ke sungai.
‘Saling lempar anak-anak itu ke sungai.’
Kesimpulan
Bahasa
Makasar memiliki keunikan, baik dari segi morfologis maupun dari segi
sintaksis. Keunikan dari segi morfologis terdapat pada keberadaan prefiks, baik
prefiks tunggal maupun prefiks rangkap. Ada dua bentuk yang terjadi pada saat prefiks mengalami proses morfofonemik,
yaitu geminasi dan perubahan bunyi. Proses morfofonemik prefiks pada bentuk
dasar yang mengalami perubahan bunyi pada umumnya enklitika yang berada pada posisi posverba
saling tunjuk dengan O kalimat. Selanjutnya, objek yang dibangun oleh kelas
nomina/frasa nomina memicu kehadiran pemarkah determinasi -a atau -ya. Struktur
kalimat selalu konsisten subjek (S)
mendahului predikat (P). Struktur tersebut tidak dapat dibalik susunannya
menjadi P-S sebagaimana pola dasar kalimat yang dimiliki bahasa Makassar.
Sebaliknya, proses morfofonemik prefiks pada bentuk dasar yang mengalami
geminasi pada umumnya enklitika yang berada pada posisi posverba saling tunjuk
dengan S kalimat. Struktur kalimat selalu P mendahului S. Namun, strukturnya
dapat diubah-ubah susunannya.
Daftar
Pustaka
Abbas, Asriani. 2014. “Perilaku Morfosintaksis Verba
Bahasa Makassar.” Disertasi Doktor. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar
Alwi, hasan. 1988. Tata
Bahasa Baku Bahasa Indoneisa (Edisi Ketiga, Cetakan I). Jakarta: Balai Pustaka.
Basang, Arif. 1981. Struktur
Bahasa Makassar. Jakarta: Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Chaer, Abdul. 2007. Morfologi
Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Comrie, B. 1989. Aspect: An Introduction to the Study of Verbal Aspect and Related Problems. Cambridge: Cambridge University Press.
Friberg, B. 1996. Konjo’s Peripatetic
Person Markers. Papers in Austronesian Linguistic No3,137 171.
Kridalaksana 1986. Kelas Kata dalam
Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.
Ramlan 1985. Tata Bahasa Indonesia
Penggolongan Kata. Yogyakarta: Andi Offset.
Foley, A.A. 1976. Comparative
Syntax in Austronesia.Berkeley University of California, California.
Moeliono, A.M. dan Dardjowidjojo. (ed.) 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Jakarta: Perum Balai Pustaka.
Manyambeang,
Kadir. 1991 “Struktur Klausa Nahasa Makassar Dialek Lakiung”. Tesis Magister Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.

Belum ada tanggapan untuk "KEHADIRAN PEMARKAH DETERMINASI PADA KALIMAT EKATRANSITIF BAHASA MAKASSAR"
Posting Komentar